Ditulis oleh Alvin Pratama Zeuslim
Pendahuluan
Dalam indeks buku The International Dictionary Of Medicine and Biology (Freund.1991) mendefinisikan kesehatan sebagai suatu kondisi yang dalam keadaan baik dari suatu organisme atau bagiannya yang dirincikan oleh fungsi yang normal dan tidak adanya penyakit.
Dalam bahasa Indonesia pengertian gangguan adalah suatu hal yang membuat suatu fungsi berjalan tidak sebagaimana mestinya. Namun kata gangguan dalam bahasa tidak mempunyai "sense" seperti annoy, distrub, disorder atau disfunction. Kata-kata dalam bahasa inggris tersebut mempunyai arti yang sama dalam bahasa indonesia yaitu gangguan, tetapi memiliki sense atau makna yang berbeda didalamnya.
Orang yang mengalami mental disturbances mempunyai gejala yang lebih ringan dibandingkan orang yang mengalami mental disfunction atau mental disorder apalagi yang mengalami mental illness. Namun dalam bahasa Indonesia semua diartikan sama gangguan jiwa.
Mental diartikan sempit dalam bahasa Indonesia yaitu Jiwa. Sedangkan jiwa sendiri diartikan salah kaprah dalam bahasa Indonesia. Jiwa dalam bahasa Indonesia diartikan "nyawa", Roh, barang gaib dan pengertian-pengertian lain yang sangat abstrak. Sehingga terjadi suatu pengertian kalau orang mengalami gangguan jiwa, artinya rohnya terganggu, ada pengaruh barang gaib dan sebagainya.
Mental sendiri dalam arti khusus adalah fungsi sistem saraf (otak dan persyarafannya)
Mental sendiri dalam arti khusus adalah fungsi sistem saraf (otak dan persyarafannya)
i
yang terdiri dari fungsi kognitif (berfikir), afektif (perasaan), dan psikomotor (perilaku). Sehingga gangguan yang terjadi pada salah satunya dapat dikatakan orang sedang terganggu jiwanya atau mentalnya. Mental sendiri lebih tepat dalam arti bahasa jawa yaitu JIWO yang artinya hampir mirip dengan mental.
Kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan diri.(Dr. Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, 1994, CV HAJI SAMAAGUNG ; Jakarta.)
Masalah kemiskinan memang telah lama ada sejak dahulu kala. Pada masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masakini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada jaman modern.
Kemiskinan sebagai suatu penyakit sosial ekonomi tidak hanya dialami oleh negara-negara yang sedang berkembang, tetapi juga negara-negara maju, seperti Inggris dan Amerika Serikat. Negara Inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri yang muncul di Eropa. Pada masa itu kaum miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik yang sebelumnya sebagai petani yang mendapatkan upah rendah, sehingga kemampuan daya belinya juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan terhadap penyakit sosial lainnya, seperti prostitusi, kriminalitas, pengangguran.
ii
Daftar Isi
Pendahuluan……………………………………………………………………………... i
Daftar Isi…………………………………………………………………………………... iii
Kesehatan Mental………………………………………………………………………... 1
Kemiskinan……………………………………………………………………………….. 4
Penanggulangan Kemiskinan………………………………………………………….. 8
Pengaruh Kemiskinan Terhadap Kesehatan Mental Seseorang………………….. 10
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………… 16
Kesehatan Mental
Kesehatan mental merupakan keserasian atau kesesuaian antara seluruh aspek psikologis dan dimiliki oleh seorang untuk dikembangkan secara optimal agar individu mampu melakukan kehidupan-kehidupan sesuai dengan tuntutan-tuntutan atau nilai-nilai yang berlaku secara individual, kelompok maupun masyarakat luas sehingga yang sehat baik secara mental maupun secara sosial.
Pembahasan mengenai konsep kesehatan lebih difokuskan pada model-model kesehatan yang muncul. Model-model kesehatan itu antara lain model barat dan model timur.
Menurut Eisenberg (Helman, 1990) yang dimaksud dengan model adalah cara merekontruksi realita, memberikan makna kepada fenomena-fenomena alam yang pada dasarnya bersifat chaos. Model kesehatan barat dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu model biomedis atau sering disebut sebagai model medis ( Joesoet, 1990; Freund, 1991; Helman, 1990; Tamm, 1993), model spikiatris (Helman, 1990) dan model psikosomatis (Tamm, 1993) sedangkan model kesehatan timur umumnya disebut model kesehatan holistic (Joesoet, 1990) yang menekankan pada keseimbangan (Helman,1990).
Model biomedis (Freud, 1991) memiliki 5 asumsi.
Model biomedis (Freud, 1991) memiliki 5 asumsi.
1. Terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh tertentu.
2. Bahwa penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, entah secara biokimia atau neurofisiologi.
3. Keyakinan bahwa setiap penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang secara potensial dapat didefinisikan.
4. Melihat tubuh sebagai suatu mesin.
5. Konsep bahwa obyek yang perlu diatur dan dikontrol.
Model psikosometik menyatakan penyakit berkembang melalui saling terkait secara berkesinambungan antara factor fisik dan mental yang saling memperkait satu sama lain melalui jaringan yang kompleks.
Holisme dalam arti yang sempit melihat organisme manusiawi sebagao suatu system kehidupan yang semua kompenennya saling terkait dan saling tergantung. Sementara menurut arti luas pandangan holistis menyadari bahwa system tersebut merupakan suatu bagian integral dari system-sistem yang luas dimana organisme individu berinterksi terus menerus dengan lingkungan fisik dan sosialnya yaitu tetap terpengaruh oleh lingkungan.
Seseorang dikatakan sehat tidak cukup dilihat hanya dari segi fisik, psikologis dan sosial saja, tapi juga harus dilihat dari segi spiritual dan agama.
Inilah yang kemudian disebut Dadang Hawari sebagai dimensi sehat itu, yaitu Bio-psiko-sosial-spiritual. Jadi seseorang yang sehat mentalnya tidak hanya sebatas pengertian terhindarnya dia dari gangguan dan penyakit jiwa baik neurosis maupun psikosis, melainkan patut pula dilihat sejauh mana seseorang itu mampu menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, mampu mengharmoniskan fungsi-fungsi jiwanya, sanggup mengatasi problem hidup termasuk kegelisahan dan konflik batin yang ada, serta sanggup mengaktualisasikan potensi dirinya untuk mencapai kebahagiaan.
Istilah kesehatan mental sendiri memperoleh pengertian yang beragam seiring perkembangannya :
Holisme dalam arti yang sempit melihat organisme manusiawi sebagao suatu system kehidupan yang semua kompenennya saling terkait dan saling tergantung. Sementara menurut arti luas pandangan holistis menyadari bahwa system tersebut merupakan suatu bagian integral dari system-sistem yang luas dimana organisme individu berinterksi terus menerus dengan lingkungan fisik dan sosialnya yaitu tetap terpengaruh oleh lingkungan.
Seseorang dikatakan sehat tidak cukup dilihat hanya dari segi fisik, psikologis dan sosial saja, tapi juga harus dilihat dari segi spiritual dan agama.
Inilah yang kemudian disebut Dadang Hawari sebagai dimensi sehat itu, yaitu Bio-psiko-sosial-spiritual. Jadi seseorang yang sehat mentalnya tidak hanya sebatas pengertian terhindarnya dia dari gangguan dan penyakit jiwa baik neurosis maupun psikosis, melainkan patut pula dilihat sejauh mana seseorang itu mampu menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, mampu mengharmoniskan fungsi-fungsi jiwanya, sanggup mengatasi problem hidup termasuk kegelisahan dan konflik batin yang ada, serta sanggup mengaktualisasikan potensi dirinya untuk mencapai kebahagiaan.
Istilah kesehatan mental sendiri memperoleh pengertian yang beragam seiring perkembangannya :
1. Sebagai kondisi atau keadaan sebagaimana gambaran diatas.
2. ebagai ilmu pengetahuan cabang dari ilmu psikologi yang bertujuan mengembangkan potensi manusia seoptimal mungkin dan menghindarkannya dari gangguan dan penyakit kejiwaan.
Seseorang dapat berusaha memelihara kesehatan mentalnya dengan menegakkan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, yaitu :
1. Mempunyai self image atau gambaran dan sikap terhadap diri sendiri yang positif.
2. Memiliki interaksi diri atau keseimbangan fungsi-fungsi jiwa dalam menghadapi problema hidup termasuk stress..
3. Mampu mengaktualisasikan secara optimal guna berproses mencapai kematangan.
4. Mampu bersoiallisasi dan menerima kehadiran orang lain
5. Menemukan minat dan kepuasan atas pekerjaan yang dilakukan
6. Memiliki falsafah atau agama yang dapat memberikan makna dan tujuan bagi hidupnya.
7. Mawas diri atau memiliki control terhadap segala kegiatan yang muncul
8. Memiliki perasaan benar dan sikap yang bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya.
Kemiskinan
Amerika Serikat sebagai negara maju juga dihadapi masalah kemiskinan, terutama pada masa depresi dan resesi ekonomi tahun 1930-an. Pada tahun 1960-an Amerika Serikat tercatat sebagai negara adi daya dan terkaya di dunia. Sebagian besar penduduknya hidup dalam kecukupan. Bahkan Amerika Serikat telah banyak memberi bantuan kepada negara-negara lain. Namun, di balik keadaan itu tercatat sebanyak 32 juta orang atau seperenam dari jumlah penduduknya tergolong miskin.
Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alamnya mempunyai 49,5 juta jiwa penduduk yang tergolong miskin (Survai Sosial Ekonomi Nasional / Susenas 1998). Jumlah penduduk miskin tersebut terdiri dari 17,6 juta jiwa di perkotaan dan 31,9 juta jiwa di perdesaan. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat banyaknya dibanding angka tahun 1996 (sebelum krisis ekonomi) yang hanya mencatat jumlah penduduk miskin sebanyak 7,2 juta jiwa di Perkotaan dan 15,3 juta jiwa perdesaan. Akibat krisis jumlah penduduk miskin diperkirakan makin bertambah.
Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yakni kemiskinan alamiah dan karena buatan. Kemiskinan alamiah terjadi antara lain akibat sumber daya alam yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan “buatan” terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia, hingga mereka tetap miskin. Maka itulah sebabnya para pakar ekonomi sering mengkritik kebijakan pembangunan yang melulu terfokus pada pertumbuhan ketimbang pemerataan.
Berbagai persoalan kemiskinan penduduk memang menarik untuk disimak dari berbagai aspek, sosial, ekonomi, psikologi dan politik. Aspek sosial terutama akibat terbatasnya interaksi sosial dan penguasaan informasi. Aspek ekonomi akan tampak pada terbatasnya pemilikan alat produksi, upah kecil, daya tawar rendah, tabungan nihil, lemah mengantisipasi peluang. Dari aspek psikologi terutama akibat rasa rendah diri, fatalisme, malas, dan rasa terisolir. Sedangkan, dari aspek politik berkaitan dengan kecilnya akses terhadap berbagai fasilitas dan kesempatan, diskriminatif, posisi lemah dalam proses pengambil keputusan.
Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga pengertian: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural. Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untak memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan, sandang, kesehatan, papan, pendidikan. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari fihak lain yang membantunya.
Lebih lanjut, garis kemiskinan merupakan ukuran rata-rata kemampuan masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum. Melalui pendekatan sosial masih sulit mengukur garis kemiskinan masyarakat, tetapi dari indikator ekonomi secara teoritis dapat dihitung dengan menggunakan tiga pendekatan, yaitu pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran. Sementara ini yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS) untuk menarik garis kemiskinan adalah pendekatan pengeluaran.
Menurut data BPS hasil Susenas pada akhir tahun 1998, garis kemiskinan penduduk perkotaan ditetapkan sebesar Rp. 96.959 per kapita per bulan dan penduduk miskin perdesaan sebesar Rp. 72.780 per kapita per bulan. Dengan perhitungan uang tersebut dapat dibelanjakan untuk memenuhi konsumsi setara dengan 2.100 kalori per kapita per hari, ditambah dengan pemenuhan kebutuhan pokok minimum lainnya, seperti sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi. Angka garis kemiskinan ini jauh sangat tinggi bila dibanding dengan angka tahun 1996 sebelum krisis ekonomi yang hanya sekitar Rp. 38.246 per kapita per bulan untuk penduduk perkotaan dan Rp. 27.413 bagi penduduk perdesaan.
Banyak pendapat di kalangan pakar ekonomi mengenai definisi dan klasifikasi kemiskinan ini. Dalam bukunya The Affluent Society, John Kenneth Galbraith melihat kemiskinan di Amerika Serikat terdiri dari tiga macam, yakni kemiskinan umum, kemiskinan kepulauan, dan kemiskinan kasus. Pakar ekonomi lainnya melihat secara global, yakni kemiskinan massal/kolektif, kemiskinan musiman (cyclical), dan kemiskinan individu.
Kemiskinan kolektif dapat terjadi pada suatu daerah atau negara yang mengalami kekurangan pangan. Kebodohan dan eksploitasi manusia dinilai sebagai penyebab keadaan itu. Kemiskinan musiman atau periodik dapat terjadi manakala daya beli masyarakat menurun atau rendah. Misalnya sebagaimana, sekarang terjadi di Indonesia. Sedangkan, kemiskinan individu dapat terjadi pada setiap orang, terutama kaum cacat fisik atau mental, anak-anak yatim, kelompok lanjut usia.
Kemiskinan kolektif dapat terjadi pada suatu daerah atau negara yang mengalami kekurangan pangan. Kebodohan dan eksploitasi manusia dinilai sebagai penyebab keadaan itu. Kemiskinan musiman atau periodik dapat terjadi manakala daya beli masyarakat menurun atau rendah. Misalnya sebagaimana, sekarang terjadi di Indonesia. Sedangkan, kemiskinan individu dapat terjadi pada setiap orang, terutama kaum cacat fisik atau mental, anak-anak yatim, kelompok lanjut usia.
Penanggulangan Kemiskinan
Teori ekonomi mengatakan bahwa untak memutus mata rantai lingkaran kemiskinan dapat dilakukan peningkatan keterampilan sumber daya manusianya, penambahan modal investasi, dan mengembangkan teknologi. Melalui berbagai suntikan maka diharapkan produktifitas akan meningkat.
Program-program kemiskinan sudah banyak dilaksanakan di berbagai negara. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat program penanggulangan kemiskinan diarahkan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi antar negara bagian, memperbaiki kondisi permukiman perkotaan dan perdesaan, perluasan kesempatan pendidikan dan kerja untuk para pemuda, penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi orang dewasa, dan pemberian bantuan kepada kaum miskin usia lanjut. Selain program pemerintah, juga kalangan masyarakat ikut terlibat membantu kaum miskin melalui organisasi kemasyarakatan, gereja, dan lain sebagainya.
Di Indonesia program-program penanggulangan kemiskinan sudah banyak pula dilaksanakan, seperti : pengembangan desa tertinggal, perbaikan kampung, gerakan terpadu pengentasan kemiskinan. Sekarang pemerintah menangani program tersebut secara menyeluruh, terutama sejak krisis moneter dan ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997, melalui program-program Jaring Pengaman Sosial (JPS). Dalam JPS ini masyarakat sasaran ikut terlibat dalam berbagai kegiatan.
Sedangkan, P2KP sendiri sebagai program penanggulangan kemiskinan di perkotaan lebih mengutamakan pada peningkatan pendapatan masyarakat dengan mendudukan masyarakat sebagai pelaku utamanya melalui partisipasi aktif. Melalui partisipasi aktif ini dari masyarakat miskin sebagai kelompok sasaran tidak hanya berkedudukan menjadi obyek program, tetapi ikut serta menentukan program yang paling cocok bagi mereka. Mereka memutuskan, menjalankan, dan mengevaluasi hasil dari pelaksanaan program. Nasib dari program, apakah akan terus berlanjut atau berhenti, akan tergantung pada tekad dan komitmen masyarakat sendiri.
Pengaruh Kemiskinian Terhadap Kesehatan Mental Seseorang
Secara garis besar ruang lingkup kesehatan mental adalah:
a. Promosi kesehatan mental. Meliputi usaha-usaha peningkatan kesehatan mental.
b. Prevensi primer, merupakan usaha kesehatan mental untuk mencegah timbulnya gangguan/sakit mental
c. Prevensi sekunder, merupakan usaha kesehatan mental menemukan kasus dini dan penyembuhan secara tepat terhadap gangguan/sakit mental. Usaha ini dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi durasi gangguan agar tidak berdampak lebih parah, baik
d. Prevensi tersier, merupakan usaha rehabilitasi awal yang dapat dilakukan terhadap individu yang mengalami gangguan mental (Pelmutter, F.D. 1982., Mental Health Promotion and Primarly Prevention. San Francissco:Jose_Bass Inc, Publisher)
Mengidentifikasi ada atau tidak adanya suatu gangguan mental bukanlah perkara yang mudah sebagaimana mengenal gangguan fisik. Banyak faktor yang mempengaruhinya, antara lain faktor kultural yang memiliki batasan tersendiri mengenai sehat dan tidak sehat. Selain itu, faktor individual/subyektif turut mempengaruhi dalam hal ini terkait dengan persepsi dan perasaannya.
Gangguan mental didefenisikan sebagai pola perilaku atau psikologis yang terjadi pada individu dan hal tersebut dikaitkan dengan adanya: stress, ketidakmampuan, dan peningkatan resiko secara bermakna untuk mati, sakit, ketidakmampuan atau kehilangan kebebasan (American Psychiatric Association. 1994. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, 4th edition.
Washington DC).
Untuk menentukan gangguan mental, terdapat beberapa kriteria umum:
a. Gangguan mental karena memperoleh perawatan psikologis dan atau psikiatris
b. Adanya penyesuaian seseorang yang tidak tepat dengan norma-norma social
c. Terpenuhinya diagnosis gangguan mental
d. Adanya penilaian subyektif
e. Terdapat simptom psikologis yang obyektif
Ada dua faktor utama yang merupakan penyebab terjadinya gangguan psikologis, yaitu:
1. Faktor-faktor pendukung (predisposing factors): merupakan keberadaan individu sebelum mengalami situasi yang penuh dengan tekanan (stress). Faktor ini telah ada dalam diri seseorang.
a. Faktor biologis
Faktor keturunan; sangat besar kemungkinan individu untuk mengalami gangguan psikologis karena mewarisi bakat-bakat biologis dari orangtuanya. Contoh, para ahli menemukan bahwa anak kembar identik kemungkinan untuk mengalami schizophrenia sebesar 58%, sedangkan anak kembar tidak identik hanya 10%.
Faktor kimiawi; gangguan psikologis disebabkan oleh adanya gangguan cairan kimiawi di otak dan pusat sistem syaraf. Seperti:
1. Dopamine: menyebabkan penyakit parkinson (wajah kaku, tidak bergerak-gerak, kekejangan otot)
2. Taraxein: disebut sebagai penyebab schizophrenia
3. Catecholamines: merangsang kerja sistem syaraf sehingga kelebihan cairan ini akan mengakibatkan gangguan kejiwaan yang disebut mania, sedangkan bila kekurangan akan menyebabkan depresi.
b. Faktor psikologis
Pengalaman masa kecil, seperti kekurangan kasih saying (bakat antisosial, senantiasa merasa tidak aman, frustrasi, tertekan dan besikap bermusuhan dengan orang lain), rejection dari orang tua (perasaan tidak berharga dan tidak berguna, senatiasa merasa kesepian, tidak bahagia, merasa tidak aman), perlindungan yang berlebihan dari orang tua (tidak dapat mandiri, mudah nervous, pasif, dan tidak mampu mengatasi tekanan hidup), sikap memanjakan dari orang tua (egois, tidak tahu bertanggung jawab, kesulitan untuk menyesuaikan diri, terlalu peka terhadap aturan dan perintah), tuntutan yang berlebihan dari orang tua/perfectionis (cenderung rendah diri, tidak aman, cemas, mudah memyalahkan diri sendiri, emosi tidak stabil, tidak tahan dengan tekanan hidup) Ketidakharmonisan dalam rumah tangga; tertanamnya kesan buruk, merasa tidak aman dalam hubungan pernikahan, selalu curiga terhadap pasangannya, terlalu sensitif terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Early trauma; mendatangkan psychological schock reaction yang diikuti dengan perasaan tidak aman yang cenderung permanen Kurangnya persiapan dan pengalaman hidup; tidak mendapat kesempatan untuk mempelajari bagaimana merespon suatu situasi yang penuh dengan tekanan.
c. Faktor sosial
Macam dan suasana pekerjaan yang tidak menyenangkan (tidak puas dengan berbagai macam alasan, sehingga mendatangkan perasaan yang mudah tersinggung, tidak penya semangat bekerja, dll)
Kelas sosial; dipengaruhi oleh pola asuh dari tiap kelas sosial yang berbeda, pengenalan dan pandangan terhadap diri sendiri, latihan dan persiapan masa kecil untuk menghadapi stres, dan tuntutan hidup yang akan dicapai.
Kelompok kebudayaan tertentu; kehidupan di tengah kebudayaan yang asing akan menimbulkan perasaan kesepian, tidak dihargai, dan senatiasa dihantui oleh
perasaan penuh curiga.
Tempat tinggal; kota vs desa, tempat kotor vs tempat bersih Anggota kelompok minoritas; menjadi anggota dari sebuah kelompok minoritas akan mudah mendatangkan perasaan tidak aman dan tertekan
Seks; laki-laki vs perempuan Status pernikahan; individu yang tidak menikah, janda,
duda, bercerai cenderung mempunyai pengalaman hidup yang tidak menyenangkan
Agama; individu yang aktif dalam kegiatan agama cenderung memiliki kemampuan dalam mengatasi masalah
2. Faktor-faktor penyebab (precipitating factors).
Faktor-faktor biologis; adanya gangguan fisik (kecapaian, kelaparan, kurang tidur, kurang gizi, penyakit, gangguan pada sistem syaraf). Gangguan ini jika kadarnya cukup
tinggi akan memudahkan munculnya gangguan psikologis, apalagi faktor pendukungya telah ada.
Faktor-faktor psikis; adanya konflik, frustrasi dan berbagai macam tekanan dapat menjadi pemicu bagi timbulnya gangguan psikologis
Faktor-faktor sosial; pengaruh lingkungan dan pengalaman social.
Faktor-faktor rohani; dihantui oleh perasaan berdosa dan bersalah
Terkait dengan isu kemiskinan ditemukan data, bahwa:
a. Gangguan mental (neurosis) yang dialami masyarakat miskin 2 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan masyarakat yang tidak miskin (Patel, V, et al., Women, poverty, and common mental disorders in four restructuring societies. Journal Social Sciense and Medicine, 1999).
b. Masyarakat yang mempunyai persoalan dengan kelaparan dan berhutang, memiliki potensi yang besar untuk mengalami gangguan mental- neurosis-(Patel, V, et al., Women, poverty, and common mental disorders in four restructuring societies. Journal Social Sciense and Medicine, 1999)
c. Gangguan mental (neurosis) pada umumnya dialami oleh masyarakat yang tinggal di daerah pemukiman yang miskin dan padat (Araya, et al.,Education and income: which is more important for mental health?)
d. Gangguan mental (neurosis) juga pada umumnya dijumpai pada masyarakat yang tingkat penganggurannya tinggi dan berpenghasilan rendah (WHO International Consortium of Psychiatric Epidemiology. Cross-national Comparisons of Mental Disorders.Bulletin of the WHO, 2000)
e. Khusus gangguan mental psikosis masyarakat yang memiliki status social ekonomi terendah mempunyai kecenderungan resiko schizophrenia 8 kali lebih tinggi ketimbang masyrakat yang memiliki status sosial tertinggi (Saraceno, B and Barbui C., Poverty and mental illness. Canadian Journal of Psychiatry, 1997) bandingkan dengan penelitian yang dilakukan pada tahun 1964 oleh Holingshead ditemukan hasil bahwa masyarakat kelas sosial ekonomi rendah memiliki prevalensi yang tinggi mengalami psikotik, sedangkan prevalensi neurotik lebih banyak dialami oleh kelompok sosial ekonomi tinggi. Kesimpulan ini tidak berlaku untuk psikosis jenis depresi, karena prevalensinya lebih tinggi dialami oleh kelompok ekonomi tinggi).
Daftar Pustaka
http://mental-health.blogspot.com
American Psychiatric Association. 1994. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, 4th edition. Washington DC
Araya, et al.,Education and income: which is more important for mental health?
Daradjat, Zakiah, Kesehatan Mental, 1994, CV HAJI SAMAAGUNG ; Jakarta.
Freund. 1991. The International Dictionary Of Medicine and Biology
Galbraith, John Kenneth.1992. The Affluent Society
Patel, V, et al., Women, poverty, and common mental disorders in four restructuring societies. Journal Social Sciense and Medicine, 1999
Pelmutter, F.D. 1982., Mental Health Promotion and Primarly Prevention. San Francissco:Jose_Bass Inc, Publisher
Saraceno, B and Barbui C., Poverty and mental illness. Canadian Journal of Psychiatry, 1997
WHO International Consortium of Psychiatric Epidemiology. Cross-national Comparisons of Mental Disorders.Bulletin of the WHO, 2000




































